Selasa, 06 Maret 2012

TUGAS PPAT


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan Rahmat dan Hidayah-Nya Kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “pengadaan tanah untuk kepentingan swasta dengan cara konsolidasi tanah” yang diajukan guna memenuhi tugas dalam mata kuliah PPAT di Fakultas Hukum Universitas Jember dapat diselesaikan oleh saya tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan, oleh karena itu kami berharap sumbang saran dan kritik yang membangun demi perbaikan makalah ini. Semoga dengan adanya makalah yang kami buat dapat bermanfaat sebagai referensi bagi mahasiswa Universitas Jember khususnya mahasiswa Fakultas Hukum yang sedang menempuh mata kuliah PPAT.



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan merupakan upaya manusia dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya yang dipergunakan bagi pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kesejahteraan hidup manusia itu sendiri. Dengan memiliki cipta, rasa, dan karsa, manusia telah mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kemakmuran baik untuk generasi sekarang maupun untuk generasi yang akan datang. Dalam arti bahwa pemanfaatan sumber daya alam bagi kebutuhan generasi sekarang juga mempertimbangkan dan memperhatikan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya. Hal tersebut sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Tanah merupakan salah satu sumber daya alam yang penting untuk kelangsungan hidup umat manusia, hubungan manusia dengan tanah bukan hanya sekedar tempat hidup, tetapi lebih dari itu tanah memberikan sumber daya bagi kelangsungan hidup umat manusia. Bagi bangsa Indonesia tanah adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan kekayaan nasional, serta hubungan antara bangsa Indonesia dengan tanah bersifat abadi. Oleh karena itu harus dikelola secara cermat pada masa sekarang maupun untuk masa yang akan datang. Masalah tanah adalah masalah yang menyangkut hak rakyat yang paling dasar. Tanah disamping mempunyai nilai ekonomis juga berfungsi sosial, oleh karena itulah kepentingan pribadi atas tanah tersebut dikorbankan guna kepentingan umum. Ini dilakukan dengan pelepasan hak atas tanah dengan mendapat ganti rugi yang tidak berupa uang semata akan tetapi juga berbentuk tanah atau fasilitas lain. Pada dasarnya, secara filosofis tanah sejak awalnya tidak diberikan kepada perorangan. Jadi tidak benar seorang yang menjual tanah berarti menjual miliknya, yang benar dia hanya menjual jasa memelihara dan menjaga tanah selama itu dikuasainya.Hal tersebut adalah benar apabila dikaji lebih dalam bahwa tanah di samping mempunyai nilai ekonomis, juga mempunyai nilai sosial yang berarti hak atas tanah tidak mutlak. Namun demikian negara harus menjamin dan menghormati atas hak-hak yang diberikan atas tanah kepada warga negaranya yang dijamin oleh undang-undang. Hal ini berarti nilai ekonomis hak atas tanah akan berbeda dengan hak yang melekat pada tanah tersebut, dengan demikian ganti rugi yang diberikan atas tanah itu juga menentukan berapa besar yang harus diterima dengan adanya hak berbeda itu. Namun demikian negara mempunyai wewenang untuk melaksanakan pembangunan sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan baik dengan pencabutan hak maupun dengan pengadaan tanah.
Masalah pengadaan tanah sangat rawan dalam penanganannya, karena di dalamnya menyangkut hajat hidup orang banyak, apabila dilihat dari kebutuhan pemerintah akan tanah untuk keperluan pembangunan, dapatlah dimengerti bahwa tanah negara yang tersedia sangatlah terbatas. Oleh karena itu satu-satunya cara yang dapat ditempuh adalah dengan membebaskan tanah milik masyarakat, baik yang telah di kuasai dengan hak berdasarkan Hukum Adat maupun hak-hak lainnya menurut UUPA. Proses pengadaan tanah tidak akan pernah lepas dengan adanya masalah ganti rugi, maka perlu diadakan penelitian terlebih dahulu terhadap segala keterangan dan data-data yang diajukan dalam mengadakan taksiran pemberian ganti rugi. Sehingga apabila telah tercapai suatu kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi, maka baru dilakukan pembayaran ganti rugi kemudian dilanjutkan dengan pelepasan atau penyerahan hak atas tanah yang bersangkutan. Kebijakan pengadaan tanah untuk kepentingan umum sekarang ini dituangkan dalam PeraturanPresiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum yang mencabut Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993. Hal ini dikarenakan, Keppres No.55/1993 sudah tidak sesuai lagi sebagai landasan hukum dalam rangka melaksanakan pembangunan untuk kepentingan umum. Kebijakan-kebijakan tersebut dikeluarkan agar pembangunan nasional khususnya pembangunan untuk kepentingan umum yang memerlukan tanah dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya dalam pelaksanaan pengadaan tanahnya. Prinsip-prinsip dan ketentuan-ketentuan hukum haruslah tetap dijadikan landasan sesuai dengan prinsip bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Namun demikian berdasarkan kenyataan yang terjadi selama ini dalam praktek pengadaan tanah bagi kepentingan umum hak dan kepentingan masyarakat pemilik tanah kurang mendapat perlindungan hukum dan belum ada pengertian serta sikap yang sama diantara pelaksanan termasuk badan pengadilan dalam melaksanakan kebijakan yang dituangkan dalam peraturan tersebut, sehingga timbul kesan seakan-akan hukum tidak atau kurang memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat yang tanahnya diperlukan untuk pembangunan bagi kepentingan umum. Pelaksanaan pengadaan tanah tersebut dilakukan dengan memeperhatikan peran dan fungsi tanah dalam kehidupan manusia serta prinsip penghormatan terhadap hak-hak yang sah atas tanah. Dengan demikian pengadaan tanah untuk kepentingan umum diusahakan dengan cara yang seimbang dan ditempuh dengan jalan musyawarah langsung dengan para pemegang hak atas tanah. Apabila pengadaan tanah melalui musyawarah tidak mendapatkan jalan keluar antara pemerintah dengan pemegang hak atas tanah, sedangkan tanah tersebut akan digunakan untuk kepentingan umum, maka dapat ditempuh dengan cara pencabutan hak atas tanah sebagaimana diatur dalam Undang- Undang Nomor 20 Tahun 1961.

1.2 Rumusan Masalah.
1.      Bagaimana cara memperoleh tanah berdasarkan sistem perundang-undangan yang berlaku di Indonesia?
2.      Bagaiman tata cara pengadaan tanah untuk kepentingan swasta dengan cara konsolidasi tanah?
1.3 Tujuan dan Manfaat.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah PPAT  semester gasal yang diberikan oleh Bpk. Rizal Nugroho S.H.,M.H .  pada tahun pelajaran 2011 – 2012. Makalah ini bertujuan agar mahasiswa mengerti tengtang tata cara pengadaan tanah untuk kepentingan swasta dengan cara konsolidasi tanah

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Hak tanah tanah merupakan hak penguasaan atas tanah yang berisikan serangkaian wewenang, kewajiban dan/atau larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang dihaki. “Sesuatu” yang boleh, wajib atau dilarang untuk diperbuat, yang merupakan isi hak penguasaan itulah yang menjadi kriterium atau tolak pembeda di antara hak-hak penguasaan atas tanah yang diatur dalam Hukum Tanah.Dengan adanya Hak Menguasai dari negara sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 2 ayat (1) UUPA, yaitu bahwa :

Senin, 05 Maret 2012

ESCAPE FROM HUANG SHI


Film baru saya liat tadi di TV, pada awal cerita film ini seperti tidak ada yang spesial. Bisa dikatakan hampir sama dengan cerita-cerita yang berlatar PD II. Film ini berdasarkan dari kisah nyata seorang wartawan perang berkebangsaan Inggris yang menyelamatkan anak-anak yang mengungsi di sebuah panti asuhan akibat dari penyerbuan tentara Jepang di Cina.

Tahun 1937 perang dunia ke-2 mulai berkecamuk dan Jepang mulai mengekspansi wilayah di Asia tidak terkecuali Cina. Dan di Cina sendiri sedang mengalami konflik dalam negeri diakibatkan oleh ulah kaum Nasionalis yang dipimpin oleh Chiang Kai Sek dan penduduk lokal yang sangat kecanduan opium saat itu atau lebih dikenal dengan perang candu.

George A. Hogg seorang wartawan perang ingin meliput peristiwa yang terjadi disana khususnya daerah konflik seperti Nanking. Dengan berbekal kartu pengenal curian dari angota palang merah ia berhasil menyusup ke Nanking tapi yang ia temui disana jauh lebih dahsyat dari apa yang ia bayangkan dan disinilah ia hampir menghembuskan nafas terakhirnya karena tertangkap tentara Jepang namun berhasil diselamatkan oleh kaum gerilyawan penduduk lokal Cina. Dan dari sinilah ia bertemu dengan Mr. Jack seorang pemimpin gerilyawan Cina dan suster cantik Lee Pearson.

Pertemuan dengan kedua orang ini membawa George A. Hogg menuju wilayah Huang Shi dimana terdapat tempat pengungsian anak-anak korban perang di sebuah panti asuhan. Di tempat pengungsian inilah cerita indah berkembang dimana kita bisa melihat anak-anak yang menjadi korban peperangan harus menanggung semua trauma sehingga tak ada lagi air mata di wajah mereka karena telah kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya. Disinilah George A. Hogg mengabdikan hidupnya untuk anak-anak korban peperangan ini dan saat kaum nasionalis ingin menjadikan panti asuhan sebagai base camp para tentara memaksa Mr. Hogg harus membawa anak-anak ke tempat yang lebih aman di daerah Shadan dengan berjalan kaki sejauh ribuan kilo.

Film ini membuat saya merinding ketika empat orang bersaudara yang pernah ditolong oleh Mr. Hogg memberikan testimoninya diakhir film ini dan ternyata empat bersaudara ini masih hidup sampai sekarang. Film ini benar-benar layak untuk ditonton.

Minggu, 01 Januari 2012


ini foto diambil waktu kita tahun baru di rumah dimar. Tahun baru yg isinya ujan terus.